Rabu, 23 Mei 2012

Chelsea Pesta Juara di Kandang Bayern

AFP
Kiper Chelsea, Petr Cech, menggagalkan eksekusi penalti pemain sayap Bayern Muenchen, Arjen Robben (nomor 10), pada final Liga Champions, di Allianz Arena, Sabtu (19/5/2012).
MUENCHEN, KOMPAS.com — Chelsea menjuarai Liga Champions 2011-2012 setelah menang adu penalti 4-3 atas Bayern Muenchen pada babak final, di Allianz Arena, Sabtu (19/5/2012). Adu penalti dilakukan setelah skor imbang 1-1 tak berubah hingga akhir babak tambahan.

Bayern unggul lebih dulu melalui Thomas Mueller pada menit ke-83. Lepas dari pengawalan lawan, Mueller menyundul umpan Toni Kroos masuk ke gawang Petr Cech.

Lima menit berselang, Didier Drogba membawa Chelsea menyamakan kedudukan. Dari tengah kotak penalti, ia menyundul bola kiriman Juan Mata, yang mendesak langit-langit gawang Bayern setelah ditepis Manuel Neuer.

Bayern mendominasi permainan. Sejumlah serangan membuahkan ancaman. Namun, kandas akibat eksekusi yang kurang terukur.

Pada menit kelima, Bastian Schweinsteiger melepaskan tembakan yang diblok Gary Cahill. Bola kemudian dikuasai dan ditembakkan oleh Toni Kroos. Namun, bola meleset dari sasaran.

Chelsea belum memberikan ancaman serius, ketika Bayern melancarkan serangan yang berujung tembakan dari Arjen Robben pada menit ke-21. Untung bagi Chelsea, Petr Cech bisa mengantisipasinya dengan baik.

Selepas menit ke-30, permainan lebih hidup. Meski Bayern masih mendominasi, Chelsea beberapa kali mendapatkan peluang mencetak gol.

Pada menit ke-34, Chelsea mendapat hadiah tendangan bebas yang dieksekusi Juan Mata. Ia menembakkan bola langsung ke arah gawang, tetapi melesat di atas sasaran.

Bayern membalas dengan tembakan Thomas Mueller pada menit ke-36, yang juga tidak mengarah tepat ke sasaran.

Chelsea kemudian melancarkan serangan balik, yang berujung tembakan dari Salomon Kalou. Tembakan Kalou mengarah tepat sasaran, tetapi bisa diantisipasi Manuel Neuer.

Bayern mendapatkan serangkaian kesempatan mencetak gol pada menit ke-40, tetapi kembali gagal memanfaatkannya. Ribery tidak menembak bola dengan sempurna sehingga bola masuk dalam jangkauan Mario Gomez. Namun, Gomez juga gagal melakukan kontak sempurna dengan bola.

Permainan lebih terbuka di babak kedua. Bayern masih mendominasi, tetapi Chelsea juga tampak berusaha keras keluar dari tekanan dan mengalirkan serangan. Aksi saling ancam pun lebih sering terjadi.

Namun, kedua kubu sama-sama bermasalah dengan koordinasi permainan dan penyelesaian akhir sehingga banyak serangan patah di tengah jalan dan peluang emas banyak membuahkan tendangan gawang.

Pada menit ke-60, Robben menembakkan bola kiriman Ribery. Namun, Ashley Cole berhasil mengebloknya. 15 menit setelahnya, giliran tembakan Ribery yang diblok Cole.

Chelsea sempat menyelipkan ancaman pada menit ke-72 melalui Salomon Kalou. Namun, Jerome Boateng bisa mematahkannya dan bola kemudian dikuasai Neuer.

Aksi saling serang kedua kubu tak membuat kedudukan 1-1 berubah hingga akhir babak normal. Mereka pun harus memainkan babak tambahan.

Bayern lebih dulu mendapat peluang emas, berupa hadiah penalti pada menit ke-95, setelah pelanggaran Drogba kepada Ribery. Arjen Robben yang dipercaya mengeksekusi mengirim bola ke sudut kiri bawah gawang. Petr Cech berhasil membaca arah bola dan menghentikannya di luar garis gawang.

Chelsea belum membalas ketika Bayern kembali menciptakan serangan yang berujung tembakan Ivica Olic pada menit ke-108. Namun, bola meleset ke sisi kiri gawang Chelsea.

Bayern terus menekan. Namun, skor 1-1 tak berubah hingga akhir babak tambahan. Menurut catatan UEFA, hingga akhir babak tambahan, Chelsea menguasai bola sebanyak 36 persen dan menciptakan tiga peluang emas dari sembilan usaha. Adapun Bayern melepaskan tujuh tembakan akurat dari 35 percobaan.
Berikut ini adalah rekaman adu penalti.

Rekaman drama penalti
1. Philipp Lahm - gol (1-0)
2. Juan Mata - ditepis Manuel Neuer (1-0)
3. Mario Gomez - gol (2-0)
4. David Luiz - gol (2-1)
5. Manuel Neuer - gol (3-1)
6. Frank Lampard - gol (3-2)
7. Ivica Olic - ditepis Petr Cech (3-2)
8. Ashley Cole - gol (3-3)
9. Bastian Schweinsteiger - membentur tiang kiri (3-3)
10. Didier Drogba - gol (3-4)

Susunan pemain
Bayern:
1-Manuel Neuer; 44-Anatoliy Tymoschuk, 17-Jerome Boateng, 26-Diego Contento, 21-Philipp Lahm; 39-Toni Kroos, 31-Bastian Schweinsteiger, 7-Franck Ribery (11-Ivica Olic 97), 10-Arjen Robben; 33-Mario Gomez, 25-Thomas Muller (5-Daniel van Buyten 87)

Chelsea: 1-Petr Cech; 24-Gary Cahill, 4-David Luiz, 3-Ashley Cole, 17-Jose Bosingwa; 8-Frank Lampard, 12-John Mikel Obi, 34-Ryan Bertrand (15-Florent Malouda 73), 21-Salomon Kalou (9-Fernando Torres 84); 10-Juan Mata, 11-Didier Drogba

Wasit: Pedro Proenca

Rabu, 09 Mei 2012

Di Matteo: Saya Ingin Semua Pemain Siap Main

LONDON – Gelaran final Liga Champions yang tinggal menghitung hari membuat Roberto Di Matteo harus memastikan kesiapan para pemainnya. Ia berharap bisa memainkan Gary Cahill dan David Luiz yang tengah menjalani masa pemulihan dari cedera hamstring.

Di Matteo mengakui bahwa ia masih belum sepenuhnya yakin akan kondisi kedua pemainnya tersebut. Ia masih belum memastikan apakah keduanya akan turun untuk berlaga menghadapi Bayern Munich di Allianz Arena, 19 Mei mendatang.

“Saya tidak tahu. Kita lihat saja nanti. Saya ingin semua pemain siap untuk turun. Kami selalu memantau perkembangan keduanya dan akan memastikan kondisi keduanya prima,” ujar Di Matteo, seperti dilansir FIFA.com, Rabu (9/5/2012).

Cahill telah melewatkan empat pertandingan karena cedera hamstring yang dialaminya dan Luiz sudah tidak aktif bermain sejak 15 April dikarenakan cedera serupa. Kedua pemain ini juga melewatkan pertandingan Premier League saat Chelsea dipaksa menyerah oleh Liverpool dengan skor 4-1, dini hari tadi. Saat Chelsea berhadapan Liverpool, Di Matteo mengganti pemain sebanyak delapan kali.

“Ini merupakan tuntutan bagi kami. Saya pikir memainkan pemain yang masih baru dan enerjik serta masih bugar secara fisik dan mental, ini akan memberi kami kesempatan yang bagus,” lanjutnya.

“Kami harus bermain setiap tiga hari sekali. Hanya kekuatan yang bisa kami manfaatkan untuk dapat bermain maksimal di dua laga final. Kami telah mencoba. Mencoba dengan sangat keras.”

Kekalahan ini menyebabkan Chelsea tidak akan beranjak dari posisi enam klasemen Premier League musim ini. Di Matteo harus memastikan Chelsea meraih kemenangan saat bertandang ke Allianz Arena untuk memastikan tempat di Liga Champions musim depan.

Di Matteo: Terry Baik-baik Saja

LONDON, KOMPAS.com — Setelah kekalahan besar di Anfield tadi malam, John Terry baik-baik saja. Itu kata pelatih Chelsea ad interim, Roberto Di Matteo.

Kapten "The Blues" itu jadi bagian sentral kekalahan timnya saat diempaskan tuan rumah Liverpool dalam lanjutan pekan ke-37 Premier League, Selasa atau Rabu (9/5/2012) dini hari WIB. Kecerobohannya tampak jelas ketika Jordan Henderson melewatinya dan menceploskan gol kedua "The Reds".

"John luar biasa bagi kami. Ia memainkan seluruh pertandingan. Ia gambaran pemimpin dan kapten ideal bagi setiap pelatih," ucap Di Matteo.

Lanjut pria Italia berusia 41 tahun itu, Terry sangat bersemangat dan selalu membela Chelsea kapan pun. Itu yang menginspirasi pemain-pemain yang lain.

"Apa yang dilakukannya sangat mengagumkan di semua kompetisi dan berperan besar membawa kami di mana kami berada sekarang," sambung Di Matteo.

Pelatih "Kubu Stamford Bridge" seolah ingin menutupi kesalahan Terry. Setelah kecerobohan terhadap Henderson, ia juga telat menutup Andy Carroll saat berlangsung sepak pojok hingga tercipta gol ketiga "The Reds". Belum lagi kartu merah yang didapatnya di markas Barcelona dan membuatnya harus absen bermain di partai final, bersama Branislav Ivanovic, Raul Meireles, dan Ramires.

Dipinjamkan Chelsea ke Atletico, Courtois Kian Matang

TRIBUNNEWS.COM, BUCHAREST - Atletico Madrid menghajar Atletic Bilbao 3-0 pada final Liga Europa di Rumania, Kamis (11/5/2012) dini hari WIB. Los Rojiblancos perkasa di lini depan dan sempurna di lini belakang. Tangguhnya pertahan anak asuh Diego Simeone tak lepas dari penampilan ciamik Thibault Courtois di bawah mistar.
Kiper yang dipinjamkan Chelsea itu mengundang sorotan. Betapa tidak, meski usianya baru 19 tahun namun pemuda asal Belgia itu bermain bak pemain penuh pengalaman.
Tak ada tanda-tanda grogi meski tampil di partai bertajuk final kompetisi antar klub Eropa. Courtois bermain tenang dan beberapa kali menyelamatkan gawang dari serbuan Fernando Llorente cs.
Dini hari tadi pelatih kiper Chelsea, Christophe Lollichon kabarnya hadir langsung ke stadion menyaksikan penampian Courtois. Mungkin ini juga yang menambah kepercayaan diri kiper bertinggi badan 199 cm itu.
Courtois didatangkan Chelsea awal musim 2011/2012 dari klub Belgia, Racing Genk. Ia menandatangani kontrak panjang selama lima tahun di Stamford Bridge.
Chelsea punya Petr Cech yang masih berusia 29 tahun dan sedang dalam era emasnya. Namun bila nanti masa jaya Cech habis, Chelsea tak perlu pusing mencari pengganti. Melihat performa yang ditunjukkan di partai final dini hari tadi, sepertinya Courtois tak butuh waktu lama untuk menasbihkan diri sebagai salah satu kiper papan atas Eropa

Di Matteo dan Konsep "Barca dalam Kostum Biru"

LONDON, KOMPAS.com - Tak ada yang tekanan yang dirasakannya terkait spekulasi kedatangan Pep Guardiola, ke Stamford Bridge setelah mantan pelatih Barcelona itu mengumumkan keputusannya untuk tak melanjutkan kontrak bersama klub pada musim depan. Setidaknya, hal itu yang diakui oleh pelatih sementara Chelsea, Roberto Di Matteo, ketika ditanyakan kemungkinan untuk mendapatkan posisi pelatih tetap di tim berjuluk "The Blues" itu.

Namun, dengan terus terang, Di Matteo menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kemungkinan penerapan filosofi Barcelona di dalam tim. Menurutnya, filosofi dan konsep itu sulit diterapkan jika merujuk pada akar sejarah setiap klub.

"Sejarah memberi tahu kita, sulit untuk meniru budaya suatu klub ke klub yang lain. Dia mungkin menjadi orang pertama yang melakukannya. Namun, jika Anda melihat ke belakang, tampak itu memang berbeda," ungkapnya seperti dilansir oleh AFP.

Pemilik klub, Roman Abramovich, memang disebut-sebut sangat mendambakan konsep "Barcelona dalam kostum biru". Konsep ini menunjukkan bahwa Guardiola adalah manajer yang paling sempurna untuk menyampaikan visi itu.

Pelatih asal Italia itu mengatakan Chelsea memiliki karakter dan gaya permainan khas yang juga menakutkan lawan. Buktinya, di bawah kepemimpinan Di Matteo, mereka berhasil mengalahkan juara bertahan Eropa dalam laga semifinal Liga Champions, Selasa lalu.

Fernando Torres dan kawan-kawan berhasil mengamankan tempat di final liga untuk berhadapan dengan Bayern Muenchen, meski terus menuai protes atas gaya permainan bertahan yang diterapkan saat melawan Lionel Messi dan kawan-kawan dalam dua leg. Namun, Di Matteo mengaku tak peduli.

"Kami tak peduli. Kami mencetak tiga gol saat melawan Barcelona. Bisa dibilang, kami mencetak gol terbaik dengan gol Ramires. Orang-orang dapat berbicara sebanyak yang mereka mau. Kami sudah melalui dua leg. Dua gaya permainan sepa bola yang berbeda, namun kami sudah berada di final," tandasnya.

Jika Chelsea Juara, Siapa Saja Boleh Angkat Trofi

LONDON, KOMPAS.com — Gelandang Chelsea, Frank Lampard, mengatakan bahwa dirinya tak egois dan berambisi sebagai pengangkat trofi Liga Champions jika Chelsea meraih gelar juara. Lampard mengaku bahwa menjuarai Liga Champions adalah hal yang lebih penting bagi tim saat ini.
"Saya ingin tim ini meraih kemenangan sempurna. Jadi, jika kami meraih kemenangan, siapa saja yang boleh mengangkatnya, hal itu tidak begitu penting," ungkap Lampard seperti dilansir Sky Sports.
Chelsea berhasil melaju ke babak final Liga Champions musim ini setelah menyingkirkan Barcelona dengan agregat skor 3-2. Namun, Chelsea harus rela bermain di babak final melawan Bayern Muenchen yang mengalahkan Real Madrid tanpa beberapa pemain unggulan.
Pada pertandingan leg kedua di Camp Nou, kapten Chelsea, John Terry mendapat kartu merah akibat pelanggaran yang dilakukannya terhadap Alexis Sanchez. Hal itu menyebabkan Terry tidak dapat memperkuat Chelsea di final.
Kemungkinan, Lampard akan menggantikan Terry sebagai kapten di final. Pemain berusia 33 tahun itu mengaku bahwa dirinya sulit untuk menghibur Terry yang merasa sedih karena tak bisa memperkuat tim di final.
Namun, kata dia, Terry akan hadir bersama tim di Alianz Arena untuk bersama-sama merayakan kemenangan jika mereka mampu mengalahkan Bayern Muenchen.
"Sulit untuk mengiburnya. Dia akan bersama kami dan mudah-mudahan kami bisa menang dan melakukan pekerjaan sebagai sebuah tim. Namun, hal itu jelas berpengaruh terhadap Terry karena tak mampu bermain di final," tuturnya.

Luiz Percaya Diri Tampil di Final Champions

LONDON, KOMPAS.com - Pekan ini David Luiz berharap terus melanjutkan latihannya. Bek asal Brasil percaya akan siap jelang final Liga Champions, Sabtu (19/5/2012).

Chelsea menghadapi krisis bek tengah jelang partai puncak Liga Champions. John Terry dan Branislav Ivanovic dipastikan absen akibat akumulasi kartu. Di lain pihak, Luiz dan Gary Cahill harus berpacu dengan waktu memulihkan cederanya masing-masing.

Roberto Di Matteo berharap keduanya dapat melanjutkan latihan ringannya pekan ini.

Luiz absen sejak sebulan lalu setelah ditandu keluar saat semifinal Piala FA melawan Tottenham Hotspur.

"Setiap hari saya menjalani perawatan dan melalui latihan yang berat demi tampil di Muenchen. Saya melakukan segalanya agar dapat bermain di final Champions," sebut pria berambut kribo yang dikutip Guardian. Luiz mengalami cedera hamstring alias otot paha.

Menurut Luiz, tampil di partai puncak liga bergengsi antarklub Eropa itu adalah impian setiap pesepak bola di dunia. Ia yakin kondisi fisiknya akan pulih tepat waktu sebelum timnya berangkat ke Jerman.

Jika Luiz dan Cahill absen di partai pekan ke-37 Premier League melawan Liverpool, Selasa (9/5/2012), mereka hanya punya satu laga terakhir melawan Blackburn Rovers, Minggu (12/5/2012), untuk membuktikan fisiknya benar-benar pulih.

Chelsea juga kehilangan Ramires dan Raul Meireles yang terkena hukuman kartu.
"Empat pemain pilar sudah pasti absen. Berat bagi kami tampil tanpa mereka. Tapi, kami punya pemain-pemain lain yang tampil mengesankan selama Liga Champions," sambung Luiz.

Lelaki berusia 25 tahun itu tampil di depan publik kembali dalam perayaan kemenangan "Kubu Stamford Bridge" di final Piala FA, Sabtu (5/5/2012).

"Hari, pertandingan, dan pesta yang spesial buat saya," tuturnya gembira.

Di Matteo Tak Sesali Rotasi Berbuah Kekalahan

INILAH.COM, london - Chelsea turun dengan sebagian besar pemain lapis kedua saat melawan Liverpool. Hasilnya, 'The Blues' digasak 4-1. Namun, Roberto Di Matteo tak menyesali rotasi yang dilakukannya.
Chelsea tak berdaya kala bertandang ke markas Liverpool, Stadion Anfield, dalam laga lanjutan Liga primer Inggris, Rabu (9/5/2012) dinihari WIB.

Chelsea kalah telak dengan skor 4-1. Keempat gol Liverpool di laga ini lahir melalui bunuh diri Michael Essien, Jordan henderson, Daniel Agger, dan Jonjo Shelvey. Adapun, gol balasan Chelsea dicetak Ramires.

Di pertandingan itu, Chelsea turun dengan mayoritas pemain lapis kedua. Hanya John Terry dan Branislav Ivanovic pemain tim inti yang turun di laga itu.

Meski demikian, Di Matteo mengaku tak menyesal telah melakukan rotasi. Pelatih berkebangsaan Italia itu ingin menjaga stamina para pemainnya di tengah jadwal padat yang harus dijalani.

"Kami bisa sejauh ini karena kami menggunakan energi dan pemain yang kami miliki di dalam skuad. Itu adalah satu-satunya cara untuk tetap ada dalam persaingan sampai sekarang. Saya tidak menyesal," ujarnya seperti dilansir oleh BBC.

"Kami menjalani pertandingan yang sangat intens dan agar siap untuk semua itu adalah sebuah tuntutan yang besar. Saya pikir pemain yang lebih segar akan memberi kami kesempatan yang lebih baik."

"Kami masih punya pertandingan di hari Minggu dan kami ingin mengakhiri laga terkahir kami dengan baik dan menghadapi final Liga Champions dalam mood yang bagus," tuntasnya.

Kekalahan ini membuat harapan Chelsea untuk lolos ke Liga Champions musim depan kian berat. Chelsea bertengger di posisi keenam klasemen dengan 61 poin, tertinggal lima angka dari Tottenham Hotspur di posisi empat. Cara lain untuk lolos adalah dengan memenangkan final Liga Champions.

'Sebelum Gaet Guardiola, Chelsea Pakai Di Matteo'

INILAH.COM, London - Mantan pelatih Chelsea dan Inter Milan, Claudio Ranieri, memberikan saran kepada klub yang dulu pernah memecatnya. Lantas, apa saran Ranieri untuk 'The Blues'?

Ranieri menyarankan pemilik Chelsea, Roman Abramovich, untuk memakai jasa Pep Guardiola sebagai pelatih mereka. Abramovich disebut sebagai pengagum Guardiola, pelatih yang akan meninggalkan klub asal Katalan itu di akhir musim ini setelah melatih selama empat musim.

Saat ini Chelsea dilatih oleh Roberto Di Matteo yang menjabat sebagai pelatih sementara setelah Andre Villas-Boas dipecat Maret lalu. Sejak menangani Chelsea, Di Matteo berhasil membawa Chelsea menjuara Piala FA dan melaju ke final Liga Champions.

Ranieri, yang dipecat Abramovich tahun 2004 lalu, menyarankan Di Matteo tetap menjadi pelatih Chelsea musim depan sebelum membuka negosiasi dengan Guardiola musim berikutnya.

"Saya rasa mempertahankan Di Matteo sebagai pelatih Chelsea musim depan adalah keputusan tepat, tapi saya tidak yakin Abramovich akan mempertahankannya," kata Ranieri kepada ESPN.

"Mungkin Abramovich menginginkan seorang pelatih dengan nama besar atau ia bisa mempertahankan Di Matteo dan menunggu Guardiola musim berikutnya," tukasnya.

Guardiola memang menyebutkan dirinya ingin istirahat dari sepak bola musim depan dan baru akan kembali bekerja musim berikutnya.

Rabu, 02 Mei 2012

Seputar Chelsea

Berdiri sejak tanggal 10 Maret 1905. Saat itu masih dijuluki The Pensioners yang kini menjadi The Blues. Chelsea menjadi juara Liga untuk yang pertama kalinya ketika musim 1954/1955 kemudian meraih 2 gelar berturut-turut pada musim 2004/2005 dan 2005/2006. Jose Mourinho yang melatih chelsea sejak 2004, mengundurkan diri pada awal musim 2007/2008 yang posisinya digantikan Avram Grant. Dia mampu membawa Chelsea menjadi runner up dalam 3 ajang. Yaitu EPL, UCL, Carling Cup. Musim 2009/2010, Carlo Ancelotti membawa angin segar ke Chelsea. Dia mampu membawa Chelsea juara EPL dan FA Cup pada musim yang sama. 1 musim berselang, Ancelotti dipecat karena gagal membawa chelsea kembali menjadi juara. Andre Villas Boas yang menggantikan Don Carletto juga hanya bertahan 8 bulan yang kemudian dipecat.  Di Matteo yang menjadi Caretaker Manager, membawa Chelsea kembali menjadi tim yang ditakuti di Eropa. Terbukti, dia mampu membuat performa Torres menanjak. Kemudian, juga mampu membawa Chelsea ke Final UCL setelah mengalahkan tim (yang katanya) terbaik di Eropa, Barcelona, di semi-final dan juga ke Final FA Cup setelah mengalahkan Tottenham di Semi-Final. Semoga musim ini Di Matteo bisa membuat Chelsea juara UCL & FA Cup. amiiiin ya raaabbbal 'alamiiin!!! #KTBFFH #CFC #CTID #TrustRDM

Test

holaa... test test 1...2...1...1...2....3.... cek cek......